Seorang bijak pernah berkata "Homo Homini Lupus" yang artinya adalah orang homo pasti nonton film Lupus, eh salah! "Manusia adalah serigala bagi manusia yang lain". Dalam buku Asinaria miliknya Engkong Plautus menjelaskan bahwa istilah tersebut digunakan untuk menafsirkan kekejaman yang dapat dilakukan manusia bagi sesamanya. Bahwa kita harus berhati - hati dengan manusia lainnya.
Namun seiring perkembangan zaman terjadi pergeseran tafsiran "Homo Homini Lupus" menjadi lebih harfiah. Manusia benar -benar telah menjadi serigala bagi manusia lainnya. Menggonggong. Tafsiran ekstrem tersebut tentu tidak akan terjadi di kala kita mau untuk lebih peduli ketika orang mengajak bicara, atau membuka telinga dan hati lebih lebar saat seseorang memberi nasihat pada kita atau mungkin yang paling dibutuhkan berhenti bicara saat seseorang bicara. Karena dengan begitu setidaknya kita sudah berhenti membuang salah satu sifat serigala dalam diri kita yaitu "liar".
Dahulu kala ketika teori "Homo Homini Lupus" diperkenalkan, Thomas Hobbes, sosiolog yang berhati jernih dan tidak skeptis melakukan perlawanan dengan mengenalkan istilah "Homo Homini Socius" yang artinya manusia adalah teman bagi sesamanya. Ahh senang, damai, bahagia rasanya sampai - sampai kini Atlas bisa mengangkat bumi dengan tersenyum ketika mendengar bahwa ternyata pendahulu kita tidak semuanya berpikiran skeptis.
Kita adalah teman, kita ditakdirkan untuk saling melengkapi dan saling membantu. Itu dulu. Masyarakat yang kini cenderung larut dalam Self Cautiousness yang dilematis. Mau tulus entar dikira modus, Mau jujur entar dianggap gak mujur, mau sharing entar dikira baper, mau aktualisasi diri malah dianggap caper, mau makan ehh ingat kamu. Gimana gak risih coba ? What i want to say is Skeptis boleh tapi simpan buat diri sendiri aja.
Setelah "Homo Homini Lupus" dan "Homo Homini Socius", di era modern Squidward (teman Sponge Bob) juga ikut memperkenalkan sebuah teori yaitu "Homina Homina Homina". Dijelaskan dalam season 3 episode 8 serial Kartun Spongebob Squarepants ungkapan Squidward tersebut merupakan ungkapan syukur dan juga ikut mengatakan ini merupakan bentuk Toleransi dan Apresiasi.
Herannya kita yang merupakan makhluk 3D yang nyata justru semakin kehilangan dua hal penting yang diajarkan oleh makhluk fiksi 2D tersebut. Tidak usah kiranya kita membahas tentang toleransi beragama yang dijadikan sesuatu yang simbolis dan herois namun disaat yang bersamaan diinjak injak atas dasar fanatisme dan trauma, kita mulai dari kenyataan disekitar kita, ketika seseorang mulai membahas masalah -yang ditanggapi dengan masa bodoh oleh orang kebanyakan- seharusnya kita memberikan respon, masukan, kritik dan saran bukannya malah berkata " Coy, lu pergi yah! Gak ada kerjaan lain apa?"
Let's make it official, asli gue jengah dengan banyaknya sifat negatif yang akhir-akhir ini kita lakukan. Semakin kemari masyarakat semakin menginginkan perubahan, tapi alih - alih aktif kita malah justru makin pasif. Semakin kesini kita semakin terkekang dan terbatasi oleh komentar kaum mayoritas yang skeptis yang berlagak sok tau, kita semakin menyimpan kedongkolan dalam diri bagai bom waktu tanpa bisa diberi kebebasan untuk melakukan kritik dan menyampaikan apresiasi. Kita juga semakin mengaburkan makna toleransi menjadi sesuatu yang lebih mirip jeruji penghalang tindakan manusiawi.
Kita cuma bisa berharap namun jika kita cuma diam dan tak sadar diri. Seperti kata seorang perempuan kepada pacar laki - laki nya yang sedang LDR : " Peka lah ! "



0 komentar:
Posting Komentar